Dulu, dinding beton bak PAH adalah kemewahan yang diimpikan banyak keluarga di pelosok Gunungkidul. Memiliki penampungan air sendiri berarti memiliki ketahanan hidup yang lebih baik saat musim kemarau panjang melanda.
Fenomena “nunut adus/ numpang mandi” pun menjadi bagian dari keseharian, di mana rumah dengan bak PAH menjadi pusat interaksi sosial antarwarga. Bak PAH juga merupakan simbol kegigihan dan kemapanan sosial tempo dulu.
Kini, saat air lebih mudah diakses, kita diingatkan kembali bahwa bak-bak tua itu adalah monumen kemakmuran pada zamannya. Sebuah penghormatan bagi kakek-nenek kita yang berjuang keras membangun fasilitas ini demi kelangsungan hidup anak cucunya.
