Jaman Gaber atau musibah kelaparan pernah terjadi di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 1963. Amat mengerikan, hampir tiap hari ada orang meninggal karena kelaparan atau kurang gizi.
Penyebutan Gaber, merujuk pada bahan pangan pokok yakni, Gaber yang dikonsumsi saat terjadi krisis pangan. Gaber merupakan ampas tepung tapioka atau bungkil ketela pohon yang dikeringkan. Sekarang Gaber dipakai untuk campuran makanan ternak.
Pemicu yang mengakibatkan terjadinya susah pangan waktu itu lebih utama karena hama tikus yang menggila. Hama tikus memakan tanaman pertanian dan semua hasil panen. Sehingga selain disebut jaman Gaber, masyarakat juga mengenang peristiwa itu dengan sebutan jaman Petikus.
Bagi warga Gunungkidul yang saat itu sudah cukup umur, merasakan sulitnya pangan tidak akan pernah terlupakan. Hal tersebut diakui oleh Trisno Suwito (75) warga Padukuhan Plarung, Desa Sawahan, Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Bahkan, dirinya menyebut, banyak warga yang memakan rumput yang tumbuh liar.
Bagi keluarga Trisno, rumput tidak dijadikan bahan pangan utama saat krisis pangan. Namun, keluarga Trisno lebih utama diselamatkan adanya umbi-umbian liar.
Karena cukup tersedia di sudut-sudut petak ladang milik keluarganya saat itu, aneka umbi tersebut mampu menyelamatkan hidup mereka. Menggantikan bahan pangan pokok yakni beras yang sulit didapat saat peristiwa jaman Gaber.
Umbi liar yang berjasa itu kini ia lestarikan. Jenisnya cukup banyak. Antara lain : Umbi Uwi Punuk Banteng, Umbi Uwi Legi, Uwi Senggani (ular), Uwi Rondo Sluku, Uwi Alam/alas, Uwi Beras, Uwi Butun, Umbi Gembili, Jempina, Katigubug, Gembolo dan lain-lain.
